Selamat datang di blog FIQIH gaul.

Pages

Pahlawan Islam

 Shalahuddin Al Ayyubi, Pelibas Tentara Salib
 (1137 - 1193 M)

Sultan Salahuddin Al-Ayyubi, namanya telah terpateri di hati sanubari pejuang Muslim yang memiliki jiwa patriotik dan heroik, telah terlanjur terpahat dalam sejarah perjuangan umat Islam karena telah mampu menyapu bersih, menghancurleburkan tentara salib yang merupakan gabungan pilihan dari seluruh benua Eropa.
Guna membangkitkan kembali ruh jihad atau semangat di kalangan Islam yang saat itu telah tidur nyenyak dan telah lupa akan tongkat estafet yang telah diwariskan oleh Nabi Muhammad saw, maka Salahuddinlah yang mencetuskan ide dirayakannya kelahiran Nabi Muhammad Saw. Melalui media peringatan itu dibeberkanlah sikap ksatria dan kepahlawanan pantang menyerah yang ditunjukkan melalui "Siratun Nabawiyah". Hingga kini peringatan itu menjadi tradisi dan membudaya di kalangan umat Islam.
Jarang sekali dunia menyaksikan sikap patriotik dan heroik bergabung menyatu dengan sifat perikemanusian seperti yang terdapat dalam diri pejuang besar itu. Rasa tanggung jawab terhadap agama (Islam) telah ia baktikan dan buktikan dalam menghadapi serbuan tentara ke tanah suci Palestina selama dua puluh tahun. Akhirnya dengan kegigihan, keampuhan dan kemampuannya dapat memukul mundur tentara Eropa di bawah pimpinan Richard Lion Heart dari Inggris.
Hendaklah diingat, bahwa Perang Salib adalah peperangan yang paling panjang dan dahsyat penuh kekejaman dan kebuasan dalam sejarah umat manusia, memakan korban ratusan ribu jiwa, di mana topan kefanatikan membabi buta dari Kristen Eropa menyerbu secara menggebu-gebu ke daerah Asia Barat yang Islam.
Seorang penulis Barat berkata, "Perang Salib merupakan salah satu bagian sejarah yang paling gila dalam riwayat kemanusiaan. Umat Nasrani menyerbu kaum Muslimin dalam ekspedisi bergelombang selama hampir tiga ratus tahun sehingga akhirnya berkat kegigihan umat Islam mereka mengalami kegagalan, berakibat kelelahan dan keputusasaan. Seluruh Eropa sering kehabisan manusia, daya dan dana serta mengalami kebangkrutan sosial, bila bukan kehancuran total. Berjuta-juta manusia yang tewas dalam medan perang, sedangkan bahaya kelaparan, penyakit dan segala bentuk malapetaka yang dapat dibayangkan berkecamuk sebagai noda yang melekat pada muka tentara Salib.
Dunia Nasrani Barat saat itu memang dirangsang ke arah rasa fanatik agama yang membabi buta oleh Peter The Hermit dan para pengikutnya guna membebaskan tanah suci Palestina dari tangan kaum Muslimin".
"Setiap cara dan jalan ditempuh", kata Hallam guna membangkitkan kefanatikan itu. Selagi seorang tentara Salib masih menyandang lambang Salib, mereka berada di bawah lindungan gereja serta dibebaskan dari segala macam pajak dan juga untuk berbuat dosa.
Peter The Hermit sendiri memimpin gelombang serbuan yang kedua terdiri dari empat puluh ribu tentara. Setelah mereka sampai ke kota Malleville mereka menebus kekalahan gelombang serbuan pertama dengan menghancurkan kota itu, membunuh tujuh ribu orang penduduknya yang tak bersalah, dan melampiaskan nafsu angkaranya dengan segala macam kekejaman yang tak terkendali. Gerombolan manusia fanatik yang menamakan dirinya tentara Salib itu mengubah tanah Hongaria dan Bulgaria menjadi daerah-daerah yang tandus.
"Ketika mereka telah sampai ke Asia Kecil, mereka melakukan kejahatan-kejahatan dan kebuasan-kebuasan yang membuat alam semesta menggeletar" demikian tulis pengarang Perancis Michaud.
Gelombang serbuan tentara Salib ketiga yang dipimpin oeh seorang Rahib Jerman, menurut pengarang Gibbon terdiri dari sampah masyarakat Eropa yang paling rendah dan paling dungu. Bercampur dengan kefanatikan dan kedunguan mereka itu izin diberikan guna melakukan perampokan, perzinaan dan bermabuk-mabukan. Mereka melupakan Konstantin dan Darussalam dalam kemeriahan pesta cara gila-gilaan dan perampokan, pengrusakan dan pembunuhan yang merupakan peninggalan jelek dari mereka atas setiap daerah yang mereka lalui" kata Marbaid.
Gelombang serbuan tentara Salib keempat yang diambil dari Eropa Barat, menurut keterangan penulis Mill, "Terdiri dari gerombolan yang nekat dan ganas. Massa yang membabi buta itu menyerbu dengan segala keganasannya menjalankan pekerjaan rutinnya merampok dan membunuh. Tetapi akhirnya mereka dapat dihancurkan oleh tentara Hongaria yang naik pitam dan telah mengenal kegila-gilaan tentara Salib sebelumnya.
Tentara Salib telah mendapat sukses sementara dengan menguasai sebagian besar daerah Syria dan Palestina termasuk kota suci Yerusalem. Tetapi Kemenangan-kemenangan mereka ini telah disusul dengan keganasan dan pembunuhan terhadap kaum Muslimin yang tak bersalah yang melebihi kekejaman Jengis Khan dan Hulagu Khan.
John Stuart Mill ahli sejarah Inggris kenamaan, mengakui pembunuhan-pembunuhan massal penduduk Muslim ini pada waktu jatuhnya kota Antiochia. Mill menulis: "Keluruhan usia lanjut, ketidakberdayaan anak-anak dan kelemahan kaum wanita tidak dihiraukan sama sekali oleh tentara Latin yang fanatik itu. Rumah kediaman tidak diakui sebagai tempat berlindung dan pandangan sebuah masjid merupakan pembangkit nafsu angkara untuk melakukan kekejaman. Tentara Salib menghancurleburkan kota-kota Syria, membunuh penduduknya dengan tangan dingin, dan membakar habis perbendaharaan kesenian dan ilmu pengetahuan yang sangat berharga, termasuk "Kutub Khanah" (Perpustakaan) Tripolis yang termasyhur itu. "Jalan raya penuh aliran darah, sehingga keganasan itu kehabisan tenaga," kata Stuart Mill. Mereka yang cantik rupawan disisihkan untuk pasaran budak belian di Antioch. Tetapi yang tua dan yang lemah dikorbankan di atas panggung pembunuhan.
Lewat pertengahan abad ke-12 Masehi ketika tentara Salib mencapai puncak kemenangannya dan Kaisar Jerman, Perancis serta Richard Lionheart Raja Inggris telah turun ke medan pertempuran untuk turut merebut tanah suci Baitul Maqdis, gabungan tentara Salib ini disambut oleh Sultan Shalahuddin al Ayyubi (biasa disebut Saladin), seorang Panglima Besar Muslim yang menghalau kembali gelombang serbuan umat Nasrani yang datang untuk maksud menguasai tanah suci. Dia tidak saja sanggup untuk menghalau serbuan tentara Salib itu, akan tetapi yang dihadapi mereka sekarang ialah seorang yang berkemauan baja serta keberanian yang luar biasa yang sanggup menerima tantangan dari Nasrani Eropa.
Siapakah Shalahuddin? Bagaimana latar belakang kehidupannya?
Data lengkap tentang Sultan Salahudin Al-Ayubi bahwa Nama lengkapnya Yusuf Ayyubi dari seorang Muslim keturunan Kurdi yang lahir 1138 M. di Tikrit, Iraq. Memerintah sejak 1174 M. – 4 Maret-1193 M. Dan dinobatkan pada tahun 1174 M. Meninggal 4 Maret-1193 M. di Damaskus, Syria. Makamnya berada di dekat Masjid Umayyah, Damaskus, Syria
Ayahnya bernama Najamuddin Ayyub. Ketika masih kecil, Shalahuddin menerima pendidikan pertama dari ayahnya sendiri yang namanya cukup tersohor, yakni Najamuddin al-Ayyubi. Di samping itu pamannya yang terkenal gagah berani juga memberi andil yang tidak kecil dalam membentuk kepribadian Shalahuddin, yakni Asaduddin Shirakuh. Kedua-duanya adalah pembantu dekat Raja Syria Nuruddin Mahmud.
Asaduddin Shirakuh, seorang jenderal yang gagah berani, adalah komandan Angkatan Perang Syria yang telah memukul mundur tentara Salib, baik di Syria maupun di Mesir. Shirakuh memasuki Mesir dalam bulan Februari 1167 Masehi untuk menghadapi perlawanan Shawir seorang menteri khalifah Fathimiyah yang menggabungkan diri dengan tentara Perancis. Serbuan Shirakuh yang gagah berani itu serta kemenangan akhir yang direbutnya dari Babain atas gabungan tentara Perancis dan Mesir itu menurut Michaud, ia telah memperlihatkan kehebatan strategi tentara yang bernilai ringgi.
Ibnu Aziz Al Athir menulis tentang serbuan panglima Shirakuh ini sebagai berikut: "Belum pernah sejarah mencatat suatu peristiwa yang lebih dahsyat dari penghancuran tentara gabungan Mesir dan Perancis dari pantai Mesir, dengan hanya seribu pasukan berkuda".
Pada tanggal 8 Januari 1169 M Shirakuh sampai di Kairo dan diangkat oleh Khalifah Fathimiyah sebagai Menteri dan Panglima Angkatan Perang Mesir. Tetapi sayang, Shirakuh tidak ditakdirkan untuk lama menikmati hasil perjuangannya. Dua bulan setelah pengangkatannya itu, dia berpulang ke rahmatullah.
Sepeninggal Shirakuh, keponakannya Shalahuddin al-Ayyubi diangkat jadi Perdana Menteri Mesir. Tak seberapa lama ia telah disenangi oleh rakyat Mesir karena sifat-sifatnya yang pemurah dan adil bijaksana itu. Pada saat khalifah berpulang ke rahmatullah, Shalahuddin telah menjadi penguasa yang sesungguhnya di Mesir.
Di Syria, Nuruddin Mahmud yang termasyhur itu meninggal dunia pada tahun 1174 Masehi dan digantikan oleh putranya yang berumur 11 tahun bernama Malikus Saleh. Sultan muda ini diperalat oleh pejabat tinggi yang mengelilinginya terutama (khususnya) Gumushtagin. Shalahuddin mengirimkan utusan kepada Malikus Saleh dengan menawarkan jasa baktinya dan ketaatannya. Shalahuddin bahkan melanjutkan untuk menyebutkan nama raja itu dalam khotbah-khotbah Jumatnya dan mata uangnya. Tetapi segala macam bentuk perhatian ini tidak mendapat tanggapan dari raja muda itu berserta segenap pejabat di sekelilingnya yang penuh ambisi itu.
Suasana yang meliputi kerajaan ini sekali lagi memberi angin kepada tentara Salib, yang selama ini dapat ditahan oleh Nuruddin Mahmud dan panglimanya yang gagah berani, Jenderal Shirakuh.
Atas nasihat Gumushtagin, Malikus Saleh mengundurkan diri ke kota Aleppo, dengan meninggalkan Damaskus diserbu oleh tentara Perancis. Tentara Salib dengan segera menduduki ibukota kerajaan itu, dan hanya bersedia untuk tidak menghancurkan kota itu jika menerima uang tebusan yang sangat besar. Peristiwa itu menimbulkan amarah Shalahuddin al-Ayyubi yang segera ke Damaskus dengan suatu pasukan yang kecil dan merebut kembali kota itu.
Setelah ia berhasil menduduki Damaskus dia tidak terus memasuki istana rajanya Nuruddin Mahmud, melainkan bertempat di rumah orang tuanya. Umat Islam sebaliknya sangat kecewa akan tingkah laku Malikus Saleh. dan mengajukan tuntutan kepada Shalahuddin untuk memerintah daerah mereka. Tetapi Shalahuddin hanya mau memerintah atas nama raja muda Malikus Saleh. Ketika Malikus Saleh meninggal dunia pada tahun 1182 Masehi, kekuasaan Shalahuddin telah diakui oleh semua raja-raja di Asia Barat.
Sultan Shalahuddin segera mengadakan gencatan senjata dengan tentara Perancis di Palestina, tetapi menurut ahli sejarah Perancis, Michaud: "Kaum Muslimin memegang teguh perjanjiannya, sedangkan golongan Nasrani memberi isyarat untuk memulai lagi peperangan."
Berlawanan dengan syarat-syarat gencatan senjata, penguasa Nasrani Renanud atau Reginald dari Castillon menyerang suatu kafilah Muslim yang lewat di dekat istananya, membunuh sejumlah anggotanya dan merampas harta bendanya. Lantaran peristiwa itu Sultan sekarang bebas untuk bertindak. Dengan siasat perang yang tangkas Sultan Shalahuddin mengurung pasukan musuh yang kuat itu di dekat bukit Hittin pada tahun 1187 M serta menghancurkannya dengan kerugian yang amat besar.
Sultan tidak memberikan kesempatan lagi kepada tentara Nasrani untuk menyusun kekuatan kembali dan melanjutkan serangannya setelah kemenangan di bukit Hittin. Dalam waktu yang sangat singkat dia telah dapat merebut kembali sejumlah kota yang diduduki kaum Nasrani, termasuk kota-kota Naplus, Jericho, Ramlah, Caosorea, Arsuf, Jaffa dan Beirut. Demikian juga Ascalon telah dapat diduduki Shalahuddin sehabis pertempuran yang singkat yang diselesaikan dengan syarat-syarat yang sangat ringan oleh Sultan yang berhati mulia itu.
Sekarang Shalahuddin menghadapkan perhatian sepenuhnya terhadap kota Jerusalem yang diduduki tentara Salib dengan kekuatan melebihi enam puluh ribu prajurit. Ternyata tentara salib ini tidak sanggup menahan serbuan pasukan Sultan dan menyerah pada tahun 1193. Sikap penuh perikemanusiaan Sultan Shalahuddin dalam memperlakukan tentara Nasrani itu merupakan suatu gambaran yang berbeda seperti langit dan bumi, dengan perlakuan dan pembunuhan secara besar-besaran yang dialami kaum Muslimin ketika dikalahkan oleh tentara Salib sekitar satu abad sebelumnya.
Menurut penuturan ahli sejarah Michaud, pada waktu Jerusalem direbut oleh tentara Salib pada tahun 1099 Masehi, kaum Muslimin dibunuh secara besar-besaran di jalan-jalan raya dan di rumah-rumah kediaman. Jerusalem tidak memiliki tempat berlindung bagi umat Islam yang menderita kekalahan itu. Ada yang melarikan diri dari cengkeraman musuh dengan menjatuhkan diri dari tembok-tembok yang tinggi, ada yang lari masuk istana, menara-menara, dan tak kurang pula yang masuk masjid. Tetapi mereka tidak terlepas dari kejaran tentara Salib.
Tentara Salib yang menduduki masjid Umar, di mana kaum Muslimin dapat bertahan untuk waktu yang singkat, kini mengulangi lagi tindakan-tindakan yang penuh kekejaman. Pasukan infanteri dan kavaleri menyerbu kaum pengungsi yang lari tunggang langgang. Di tengah-tengah kekacaubalauan kaum peenyerbu itu, yang terdengar hanyalah erangan dan teriakan maut. Pahlawan Salib yang berjasa itu berjalan menginjak-injak tumpukan mayat Muslimin, mengejar mereka yang masih berusaha dengan sia-sia melarikan diri. Raymond d' Angiles yang menyaksikan peristiwa itu mengatakan bahwa di serambi masjid mengalir darah sampai setinggi lutut, dan sampai ke tali tukang kuda prajurit.
Penyembelihan manusia biadab ini berhenti sejenak, ketika tentara Salib berkumpul untuk melakukan misa syukur atas kemenangan yang telah mereka peroleh. Tetapi setelah beribadah itu, mereka melanjutkan kebiadaban dengan keganasan. Semua tawanan, kata Michaud, yang tertolong nasibnya karena kelelahan tentara Salib yang semula tertolong karena mengharapkan diganti dengan uang tebusan yang besar, semua dibunuh dengan tanpa ampun. Kaum Muslimin terpaksa menjatuhkan diri mereka dari menara dan rumah kediaman; mereka dibakar hidup-hidup, mereka diseret dari tempat persembunyiannya di bawah tanah; mereka dipancing dari tempat perlindungannya agar keluar untuk dibunuh di atas timbunan mayat.
Cucuran air mata kaum wanita, pekikan anak-anak yang tak bersalah, bahkan juga kenangan dari tempat di mana Nabi lsa memaafkan algojo-algojonya, tidak dapat meredakan nafsu angkara tentara yang menang itu. Penyembelihan kejam itu berlangsung selama seminggu. Dan sejumlah kecil yang dapat melarikan diri dari pembunuhan jatuh menjadi budak yang hina dina.
Seorang ahli sejarah Barat, Mill menambahkan pula: “Telah diputuskan, bahwa kaum Muslimin tidak boleh diberi ampun. Oleh karena itu harus diseret ke tempat-tempat umum untuk dibunuh hidup-hidup. Ibu-ibu dengan anak yang melengket pada buah dadanya, anak-anak laki-laki dan perempuan, seluruhnya disembelih. Lapangan-Iapangan kota, jalan-jalan raya, bahkan pelosok-pelosok Jerusalem yang sepi telah dipenuhi oleh bangkai-bangkai mayat laki-laki dan perempuan, dan anggota tubuh anak-anak. Tiada hati yang menaruh belas kasih atau teringat untuk berbuat kebajikan.
Demikianlah rangkaian riwayat pembantaian secara masal kaum Muslimin di Jerusalem sekira satu abad sebelum Sultan Shalahuddin merebut kembali kota suci, di mana lebih dari tujuh puluh ribu umat Islam yang tewas.
Sebaliknya, ketika Sultan Shalahuddin merebut kembali kota Jerusalem pada tahun 1193 M, dia memberi pengampunan umum kepada penduduk Nasrani untuk tinggal di kota itu. Hanya para prajurit Salib yang diharuskan meninggalkan kota dengan pembayaran uang tebusan yang ringan. Bahkan sering terjadi bahwa Sultan Shalahuddin yang mengeluarkan uang tebusan itu dari kantongnya sendiri dan malah memberi alat pengangkutan untuk kepulangan tentera Salib.
Sejumlah kaum wanita Nasrani dengan mendukung anak-anak mereka datang menjumpai Sultan dengan penuh tangis seraya berkata: Tuan saksikan kami berjalan kaki, para istri serta anak-anak perempuan para prajurit yang telah menjadi tawanan Tuan, kami ingin meninggalkan negeri ini untuk selama-lamanya. Para prajurit itu adalah tumpuan hidup kami. Bila kami kehilangan mereka akan hilang pulalah harapan kami. Bilamana Tuan serahkan mereka kepada kami mereka akan dapat meringankan penderitaan kami dan kami akan mempunyai sandaran hidup.
Sultan Shalahuddin sangat tergerak hatinya dengan permohonan mereka itu dan dibebaskannya para suami kaum wanita Nasrani itu. Mereka yang berangkat meninggalkan kota, diperkenankan membawa seluruh harta bendanya. Sikap dan tindakan Sultan Shalahuddin yang penuh kemanusiaan serta dari jiwa yang mulia ini memperlihatkan suasana kontras yang sangat mencolok dengan penyembelihan kaum Muslimin di kota Jerusalem dalam tangan tentara Salib satu abad sebe1umnya. Para komandan pasukan tentara Shalahuddin saling berlomba dalam memberikan pertolongan kepada tentara Salib yang telah dikalahkan itu.
Tragisnya, para pelarian Nasrani dari kota Jerusalem itu tidaklah mendapat perlindungan dari penguasa kota-kota yang dilaluinya, kendati mereka itu penguasa Kristen. Banyak kaum Nasrani yang meninggalkan Jerusalem, kata Mill, pergi menuju Antiochia, tetapi panglima Nasrani Bohcmond tidak saja menolak memberikan perlindungan kepada mcreka, bahkan merampasi harta benda mereka. Maka pergilah mereka menuju ke tanah kaum Muslimin dan diterima di sana dengan baik.
Michaud mcmberikan keterangan yang panjang lebar tentang sikap kaum Nasrani yang tak berperikemanusiaan ini terhadap para pelarian Nasrani dari Jerusalem. Tripoli menutup pintu kotanya dari pengungsi ini, kata Michaud. Seorang wanita karena putus asa melemparkan anak bayinya ke dalam laut sambil menyumpahi kaum Nasrani yang menolak untuk memberikan pertolongan kepadanya, kata Michaud.
Sebaliknya Sultan Shalahuddin bersikap penuh timbang rasa terhadap kaum Nasrani yang ditaklukkan itu. Sebagai pertimbangan terhadap perasaan mereka, dia tidak memasuki Jerusalem sebelum mereka meninggalkannya.
Dari Jerusalem Sultan Shalahuddin mengarahkan pasukannya ke kota Tyre, di mana tentara Salib yang tidak tahu berterima kasih terhadap Sultan Shalahuddin yang telah mengampuninya di Jerusalem, menyusun kekuatan kembali untuk melawan Sultan. Sultan Shalahuddin menaklukkan sejumlah kota yang diduduki oleh tentara Salib di pinggir pantai, termasuk kota Laodicea, Jabala, Saihun, Becas, dan Debersak. Sultan telah melepas hulu balang Perancis bernama Guy de Lusignan dengan perjanjian, bahwa dia harus segera pulang ke Eropa. Tetapi tidak lama setelah pangeran Nasrani yang tak tahu berterima kasih ini mendapatkan kebebasannya, dia mengingkari janjinya dan mengumpulkan suatu pasukan yang cukup besar dan mengepung kota Ptolemais.
Jatuhnya Jerusalem ke tangan kaum Muslimin menimbulkan kegusaran besar di kalangan dunia Nasrani. Sehingga mereka segera mengirimkan bala bantuan dari seluruh pelosok Eropa. Kaisar Jerman dan Perancis serta raja Inggris Richard Lion Heart segera berangkat dengan pasukan yang besar untuk merebut tanah suci dari tangan kaum Muslimin. Mereka mengepung kota Akkra yang tidak dapat direbut selama berapa bulan. Dalam sejumlah pertempuran terbuka, tentara Salib mengalami kekalahan dengan meninggalkan korban yang cukup besar.
Sekarang yang harus dihadapi Sultan Shalahuddin ialah berupa pasukan gabungan dari Eropa. Bala bantuan tentara Salib mengalir ke arah kota suci tanpa putus-putusnya, dan sungguh pun kekalahan dialami mereka secara bertubi-tubi, namun demikian tentara Salib ini jumlah semakin besar juga. Kota Akkra yang dibela tentara Islam berbulan-bulan lamanya menghadapi tentara pilihan dari Eropa, akhirnya karena kehabisan bahan makanan terpaksa menyerah kepada musuh dengan syarat yang disetujui bersama secara khidmat, bahwa tidak akan dilakukan pembunuhan-pembunuhan dan bahwa mereka diharuskan membayar uang tebusan sejumlah 200.000 emas kepada pimpinan pasukan Salib.
Karena kelambatan dalam suatu penyelesaian uang tebusan ini, Raja Richard Lion Heart menyuruh membunuh kaum Muslimin yang tak berdaya itu dengan dan hati yang dingin di hadapan pandangan mata saudara sesama kaum Muslimin.
Perilaku Raja Inggris ini tentu saja sangat menusuk perasaan hati Sultan Shalahuddin. Dia bernadzar untuk menuntut bela atas darah kaum Muslimin yang tak bersalah itu. Dalam pertempuran yang berkecamuk sepanjang 150 mil garis pantai, Sultan Shalahuddin memberikan pukulan-pukulan yang berat terhadap tentara Salib.
Akhirnya Raja Inggris yang berhati singa itu mengajukan permintaan damai yang diterima oleh Sultan. Raja itu merasakan bahwa yang dihadapinya adalah seorang yang berkemauan baja dan tenaga yang tak terbatas serta menyadari betapa sia-sianya melanjutkan perjuangan terhadap orang yang demikian itu. Dalam bulan September 1192 Masehi dibuatlah perjanjian perdamaian. Tentara Salib itu meninggalkan tanah suci dengan ransel untuk membawa barang-barangnya kembali menuju Eropa.
"Berakhirlah dengan demikian serbuan tentara Salib itu,” tulis Michaud, “di mana gabungan pasukan pilihan dari Barat merebut kemenangan tidak lebih daripada kejatuhan kota Akkra dan kehancuran kota Askalon. Dalam pertempuran itu Jerman kehilangan seorang kaisarnya yang besar beserta kehancuran tentara pilihannya. Lebih dari enam ratus ribu orang pasukan Salib mendarat di depan kota Akkra dan yang kembali pulang ke negerinya tidak lebih dari seratus ribu orang.
Dapatlah dipahami mengapa Eropa dengan penuh kesedihan menerima hasil perjuangan tentara Salib itu, oleh karena yang turut dalam pertempuran terakhir adalah tentara pilihan. Bunga kesatria Barat yang menjadi kebanggaan Eropa telah turut dalam pertempuran ini.
Sultan Shalahuddin mengakhiri sisa-sisa hidupnya dengan kegiatan-kegiatan bagi kesejahteraan masyarakat dengan membangun rumah sakit, sekolah-sekolah, perguruan-perguruan tinggi serta masjid-masjid di seluruh daerah yang diperintahnya.
Tetapi sayang, dia tidaklah ditakdirkan untuk lama merasakan nikmat perdamaian. Beberapa bulan kemudian dia pulang ke rahmatullah pada tanggal 4 Maret tahun 1193. "Hari itu merupakan hari musibah besar, yang belum pernah dirasakan oleh dunia Islam dan kaum Muslimin, semenjak mereka kehilangan Khulafa Ar-Rasyidin" demikian tulis seorang penulis Islam.
Kalangan Istana seluruh daerah kerajaan berikut seluruh umat Islam tenggelam dalam lautan duka nestapa. Seluruh isi kota mengikuti usungan jenazahnya ke kuburan dengan penuh kesedihan dan tangisan.
Demikianlah berakhirnya kehidupan Sultan Shalahuddin, seorang raja yang sangat dalam perikemanusiaannya dan tak ada tolok bandingannya, jiwa kepahlawanan yang dimilikinya dalam sejarah kemanusiaan. Dalam pribadinya, Allah telah melimpahkan hati seorang Muslim yang penuh kasih sayang terhadap kemanusiaan dicampur dengan sangat harmonis dengan keperkasaan seorang genius dalam medan pertempuran.
Utusan yang menyampaikan berita kematiannnya itu ke Baghdad membawa serta baju perangnya, kudanya, uang sebanyak satu dinar dan 36 dirham sebagai milik pribadinya yang masih ketinggalan. Orang yang hidup satu zaman dengannya, serta segenap ahli sejarah sama sependapat bahwa Sultan Shalahuddin adalah seorang yang sangat lemah lembut hatinya, ramah tamah, sabar, seorang sahabat yang baik dari kaum cendekiawan dan golongan ulama yang diperlakukannya dengan rasa hormat yang mendalam serta dengan penuh kebajikan.
"Di Eropa" tulis Philip K Hitti, dia telah menyentuh alam khayalan para penyanyi maupun para penulis novel zaman sekarang, dan masih tetap dinilai sebagai suri teladan kaum kesatria.

 Al-Fatih, Pembuka Kemenangan Istanbul, 1453M.
Istanbul atau yang dulunya dikenal sebagai Costantinople, adalah salah sebuah bandar nostalgia dunia. Keagungannya tercatat oleh tinta Sejarah Islam, bahkan statusnya sebagai salah sebuah bandar utama dunia, pasti mengundang decak kagum manusia.
Kedudukannya yang strategis, mengundang komentar Napoleon Bonaparte, “Kalaulah dunia ini sebuah negara, maka Costantinople inilah yang paling layak menjadi ibukotanya!”.
Kedudukan Costantinople yang sedemikian rupa, sungguh memiliki kedudukan yang istimewa bagi umat Islam, sehingga mereka pun mengagenda kan untuk segera menaklukkan kerajaan Byzantine. Rasulullah Saw sendiri telah beberapa kali memberikan kabar gembira tentang penaklukan kota ini di tangan umat Islam seperti yang dinyatakan beliau ketika perang Khandak:
“Sesungguhnya Costantinopel itu pasti ditaklukkan. Sebaik-baik pemimpin adalah pemimpinnya, dan sebaik-baik tentera adalah tenteranya”
Terdapat banyak lagi hadits lain seperti ini dan ia menimbulkan gairah para khalifah dan pemimpin Islam untuk berusaha menaklukkan kota Costantinople. Usaha pertama dilancarkan pada tahun 44 H yaitu di zaman Muawiyah bin Abi Sufian RA. Akan tetapi, usaha itu gagal, sedangkan  Abu Ayyub Al-Ansari yang merupakan salah seorang sahabat Nabi yang menyertainya, syahid di pinggir kota Costantinople. Di zaman Sulaiman bin Abdul Malik pula, Khilafah Umayah telah menyediakan pasukan terhandal untuk menaklukkan kembali kota itu pada tahun 98H tetapi masih belum diizinkan oleh Allah SWT. (Al-Ibar, Ibnu Khaldun 3/70 dan Tarikh Khalifah bin Khayyath, hal. 315)
Di zaman pemerintahan kerajaan Abbasiyyah, beberapa usaha diteruskan tetapi masih menemui kegagalan, termasuk usaha di zaman Khalifah Harun lah-Rasyid tahun 190H.
Selepas kejatuhan Baghdad tahun 656H, usaha menaklukkan Costantinople diteruskan pula oleh kerajaan-kerajaan kecil di Asia Minor (Anatolia) terutamanya Kerajaan Seljuk. Pemimpin masyhurnya, Alp Arslan (455-465H / 1063-1072M) telah berhasil mengalahkan Maharaja Rum, Dimonos, pada tahun 463H / 1070M. Beliau telah menangkap lalu memenjarakannya sebelum dibebaskan dengan persetujuan untuk membayar jizyah tahunan kepada Kesultanan Seljuk. Peristiwa ini telah meletakkan sebahgian besar kekaisaran Romawi di bawah pengaruh Kerajaan Islam Seljuk.
Setelah jatuhnya Kerajaan Seljuk, terbentuk pula beberapa kerajaan kecil di Anatolia, di antaranya kerajaan Seljuk Rum yang telah berhasil meluaskan kekuasaannya sehingga ke pantai Laut Ege di barat, seterusnya melemahkan pengaruh dan kekuasaan Kekaisaran Rom.

v     Daulah Utsmaniyah
Di awal kurun ke-8 hijrah/14M, Daulah Utsmaniyyah telah mengadakan kesepakatan bersama Seljuk Rum yang ketika itu berpusat di bandar Konya. Kesepakatan ini memberikan nafas baru kepada usaha umat Islam untuk menaklukkan Costantinople. Usaha awal yang dibuat adalah di zaman Sultan Yildrim Beyazid yang mana beliau telah berhasil mengepung kota itu pada tahun 796H / 1393M.
Peluang yang ada telah digunakan oleh Sultan Beyazid untuk memaksa Maharaja Byzantine menyerahkan Costantinople secara aman kepada umat Islam. Akan tetapi, usahanya itu menemui kegagalan dengan kedatangan bantuan Eropah dan dalam masa yang sama, tentera Mongol di bawah pimpinan Timur Lenk telah menyerang Daulah Utsmaniyah. Serangan itu dikenal sebagai Perang Ankara, yang berhasil memaksa Sultan Beyazid untuk menarik balik tenteranya demi mempertahankan negara dari serangan Mongol.
Dalam peperangan itu, beliau telah ditawan dan kemudiannya meninggal dunia pada tahun 1402M. Kejadian itu telah menyebabkan ide untuk menaklukkan Costantinople terhenti untuk beberapa tahun kemudian.
Selepas Daulah Utsmaniyyah mencapai ke peringkat yang lebih maju dan tersusun, ruh jihad telah hidup semua dengan nafas baru. Semangat dan kesungguhan yang ada itu telah mendorong Sultan Murad II (824-863H/1421-1451M) untuk meneruskan usaha menaklukkan Costantinople. Beberapa usaha telah dibuat untuk mengepung kota itu, tetapi dalam masa yang sama berlaku pengkhianatan di pihak umat Islam. Mahajara Byzantine telah mengambil peluang ini untuk menaburkan fitnah dan memporakporandakan barisan tentera Islam. Usaha Sultan Murad II itu tidak berhasil sampai ke sasaran, sehingga di zaman anak beliau, Sultan Muhammad Al-Fatih, sultan ke-7 Daulah Utsmaniyah.
Semenjak kecil, Sultan Muhammad Al-Fatih telah meneliti dan meninjau usaha ayahnya menaklukkan Costantinople. Bahkan beliau terus mengkaji tentang usaha-usaha yang pernah dibuat sepanjang sejarah Islam ke arah itu, sehingga menimbulkan maksud yang kuat untuk meneruskan cita-cita umat Islam sejak dahulu.
Ketika naik tahta pada tahun 855H / 1451M, beliau mulai berfikir dan menyusun strategi untuk menaklukkan Costantinople. Kekuatan Sultan Muhammad Al-Fatih banyak terletak pada ketinggian peribadinya. Semenjak kecil, beliau telah dididik secara intensif oleh para ulama kenamaan di zamannya.
Di zaman ayahnya, yakni Sultan Murad II, Asy-Syeikh Muhammad bin Ismail Al-Kurani telah menjadi pendidik Amir Muhammad (Al-Fatih). Ketika itu, Amir Muhammad adalah gubernur daerah Manisa. Sultan Murad II telah menghantar beberapa orang ulama untuk mengajar anaknya sebelum itu, tetapi tidak diindahkan oleh Amir Muhammad. Lalu, beliau mengutus Asy-Syeikh Al-Kurani dan memberikan kuasa kepadanya untuk memukul Amir Muhammad jika beliau membantah perintah gurunya. Ketika beliau menemui Amir Muhammad dan menjelaskan tentang hak yang diberikan oleh baginda Sultan, Amir Muhammad ketawa lalu dipukul oleh Asy-Syeikh Al-Kurani dengan begitu kuat sekali. Peristiwa ini telah menimbulkan kesan yang mendalam pada diri Amir Muhammad lantas selepas itu beliau terus menghafal Al-Quran dalam masa yang singkat.
Tarbiah yang diberikan oleh para ulama pendidik itu memberikan pengaruh yang besar, bukan hanya kepada pribadi Sultan, bahkan kepada corak pemerintahan dan adat Daulah Utsmaniyah itu sendiri. Sekiranya Sultan melakukan kekhilapan, sang ulama akan menegur. Sultan juga dipanggilnya dengan nama tanpa gelar. Apabila bersalam, Sultan yang akan mencium tangan ulama yang menjadi gurunya itu. Dengan pendidikan yang teliti dan penuh rasa hormat seperti ini, tidak heran jika akhirnya Muhammad Al-Fatih muncul menjadi singa dalam panggung sejarah..

v     Kredibilitas Syeikh Ak Semsettin
Dalam masa yang sama Asy-Syeikh Ak Samsettin (Syamsuddin) merupakan pendidik Sultan Muhammad Al-Fatih yang hakiki. Namanya lengkapnya adalah Muhammad bin Hamzah Ad-Dimasyqi al-Rumi yang nasabnya berkait sampai kepada Abu Bakar As-Siddiq Ra. Beliau mengajar Amir Muhammad ilmu-ilmu pokok, seperti Al-Qur'an, Al-Hadits, Fiqih, Linguistik (Arab, Parsi dan Turki), Matematik, Falak, Sejarah, Siasat Peperangan dan sebagainya.
Semenjak kecil, Syeikh Ak Semsettin berhasil meyakinkan Amir Muhammad bahwa beliau adalah orang yang dimaksudkan oleh Rasulullah Saw di dalam hadits penaklukan Costantinople.
Maka ketika Sultan Muhammad naik takhta, beliau segera menemui Syeikh Ak Semsettin, utamanya untuk menyiapkan bala tentera menuju Costantinople, demi merealisasikan hadits Rasulullah Saw Maka terjadilah peperangan yang sangat hebat, sehingga berlangsung selama 54 hari.
Sultan Muhammad Al-Fatih sangat menyayangi Syeikh Ak Semsettin. Beliau mempunyai kedudukan yang istimewa pada diri Sultan Muhammad Al-Fatih dan ini sangat jelas dinyatakan oleh beliau ketika pembukaan Istanbul, "Sesungguhnya kamu semua melihat saya gembira sekali. Kegembiraanku ini bukanlah semata-mata karena keberhasilan kita menaklukkan kota ini, akan tetapi karena hadirnya guruku yang mulia, dialah pendidikku, Asy-Syeikh Ak Semsettin."

v     Persiapan ke Arah Penaklukan
Sultan Muhammad Al-Fatih telah membuat persiapan yang besar untuk menaklukkan Costantinople. Beliau telah menyediakan mujahid kira-kira 250,000 dan ini merupakan angka yang begitu besar jika dibandingkan dengan tentera negara lain di zaman itu. Para mujahid diberi latihan intensif dan senantiasa diperingatkan pada pujian Rasulullah Saw kepada tentera yang akan menaklukkan Costantinople itu nanti
Beliau telah membangun Kota Rumeli (Rumeli Hisari) di tebing Eropa. Selat Bosphorus di bagian tersempit antara tebing Asia dan Eropah. Kota yang berhadapan dengan kota binaan Sultan Beyazid di sebelah tebing Asia ini, mempunyai peranan yang besar dalam usaha mengawal lalu lintas di selat tersebut. Maharaja Byzantine telah berusaha gigih untuk menghalangi Sultan Muhammad Al-Fatih darip pembangunan kota ini, tetapi gagal.
Sultan Muhammad Al-Fatih juga berusaha untuk meningkatkan kelengkapan senjatanya. Beliau telah memanggil ahli meriam yang bernama Orban untuk bekerja lebih intensif lagi. Beberapa meriam telah dibuat, termasuk meriam keirajaan yang masyhur. Catatan menceritakan betapa meriam ini adalah yang terbesar di zaman itu. Beratnya ratusan ton dan memerlukan ratusan tentera untuk mengangkutnya. Beliau juga menyediakan kira-kira 400 buah kapal laut untuk tujuan yang sama.
Sebelum serangan dibuat, Sultan Muhammad Al-Fatih telah mengadakan perjanjian dengan musuh-musuh yang lain. Ini merupakan strategi yang penting supaya seluruh tenaga dapat ditumpukan kepada musuh yang satu tanpa ada sedikit pun ancaman yang berada di luar jangkauan. Di antaranya, perjanjian yang dibuat dengan kerajaan Galata yang bertetangga dengan Byzantine. Perkembangan ini sangat membimbangkan Maharaja Byzantine lantas berbagai siasat dibuat untuk menaklukkan hati Sultan Muhammad Al-Fatih supaya membatalkan hasratnya. Hadiah dan berbagai uang semir pun dicoba untuk tujuan itu. Akan tetapi semuanya menemui kegagalan.
Maksud yang begitu kuat pada diri Sultan Muhammad Al-Fatih telah mendorong Maharaja Byzantine berusaha mendapatkan pertolongan dari negara-negara Eropa. Tanpa segan, beliau memohon pertolongan dari pimpinan gereja Katholik, padahal ketika itu semua gereja di Costantinople bermazhab Orthodoks.
Demi mengekalkan kekuasaannya, Maharaja Byzantine mengaku setuju untuk menukar mazhab di Costantinople demi menyatukan kedua aliran yang saling bermusuhan itu. Duta pun telah diutus dari Eropah ke Costantinople untuk tujuan tersebut. Beliau telah berkhutbah di Gereja Aya Sofya menyatakan ketundukan Byzantine kepada Katholik. Irnisnya, hal ini telah menimbulkan kemarahan penduduk Costantinople yang bermazhab Orthodoks. Sehinggakan ada di antara pemimpin Orthodoks berkata, "Sesungguhnya saya lebih rela melihat di bumi Byzantine ini berada di serban orang Turki (Muslim) daripada saya melihat topi Latin!" Situasi ini telah mencetuskan pemberotakan rakyat terhadap keputusan maharaja yang dianggap berkhianat.

v     Serangan Percobaan
Costantinople mempunyai keistimewaannya yang tersendiri dari aspek geografi. Ia dikelilingi oleh lautan dari tiga penjuru, yakni Selat Bhosphore, Laut Marmara Dan Perairan Tanjung Emas (Golden Horn) yang pintu masuknya dihalangi oleh rantai besi raksasa dan berfungsi penghalang kapal yang akan masuk ke pintu utama Kota Costantinople.
Selepas melalui proses persiapan yang teliti, akhirnya Sultan Muhammad Al-Fatih telah tiba di hadapan kota Costantinople pada hari Khamis 26 Rabiul Awal 857H bersamaan 6 April 1453M. Di hadapan 250 ribu tentera, Al-Fatih telah menyampaikan khutbah mengingatkan para mujahid tentang kelebihan jihad, kepentingan memuliakan niat dan harapan kemenangan di hadapan Allah SWT dan sebagainya. Beliau juga membacakan ayat-ayat Al-Quran serta hadits Nabi Saw tentang pembukaan kota Costantinople. Ini semua memberikan semangat yang tinggi dan jitu pada bala tentera itu. Lantas mereka menyambutnya dengan zikir, pujian dan doa kepada Allah SWT. Kehadiran para ulama di tengah-tengah barisan para mujahid itu juga menebalkan lagi maksud mereka untuk menunaikan kewajiban jihad.
Keesokan harinya, Sultan Muhammad Al-Fatih telah menyusun dan membagi tenteranya kepada tiga devisi. Pertama, adalah devisi yang bertugas mengawal kota yang mengelilingi Costantinople. Di belakangnya, adalah tentera cadangan yang bertugas mendukung tentera utama. Meriam Diraja telah diarahkankan ke pintu Topkapi. Pasukan pengawal juga diposisikan di beberapa kawasan strategis, seperti kawasan bukit di sekitar Kota Byzantine itu. Kapal-kapal laut Utsmaniyah juga diletakkan di sekitar perairan yang mengelilingi Costantinople. Akan tetapi kapal-kapal berhasil tidak berhasil memasuki perairan Tanjung Emas sebab terhalang rantai raksasa di pintu masuk.
Semenjak hari pertama serangan, tentera Byzantine telah berusaha keras menghalang tentera Utsmaniyah mendekati pintu-pintu masuk kota. Tetapi serangan strategis tentera Islam telah berhasil mematahkan halangan itu, ditambah pula dengan serangan meriam dari berbagai sudut. Bunyi meriam itu telah menimbulkan rasa takut yang luar biasa pada penduduk Costantinople sehingga memojokkan semangat mereka hanya untuk bertahan.
Tentera Laut Utsmaniyah telah mencoba beberapa kali untuk melepas rantai besi di pintu masuk Tanjung Emas. Dalam masa yang sama, srangan panah diarahkan kepada kapal-kapal Byzantine dan Eropa yang tiba untuk membantu. Walau bagaimana pun usaha ini tidak berhasil, dan malah memberi semangat kepada penduduk Costantinople. Para paderi berjalan di lorong-lorong kota, mengingatkan penduduk supaya memperbanyak sabar serta terus berdoa kepada Jesus dan Maryam supaya menyelamatkan Costantinople. Maharaja Byzantine juga berulang kali menuju Gereja Aya Sofya untuk tujuan yang sama.

v     Perjanjian Al-Fatih dengan Costantine
Maharaja Costantine mencoba dengan sekuat tenanga untuk menundukkan Al-Fatih. Berbagai hadiah menggiurkan ditawarkan untuk menyelamatkan kedudukannya. Akan tetapi Al-Fatih menampik tawaran itu, malah mengultimatum agars Costantinople diserahkan kepada Daulah Utsmaniyah secara aman. Al-Fatih berjanji, jika Costantinople diserahkan secara aman, tiada seorang pun akan disiksa, bahkan gereja dan harta benda penduduk Costantinople akan mendapat perlindungan sepenuhnya.
Suratnya mengatakan, "Serahkan kekaisaranmu dan kota Costantinople,  saya bersumpah bahwa tenteraku tidak akan merusak apa pun, baik nyawa, harta atau kehormatan. Mereka yang mau terus tinggal dan hidup sejahtera di Costantinople, bebas berbuat demikian. Dan siapa yang mau meninggalkan kota ini dengan aman, juga dipersilakan".
Walaupun begitu, kepungan tentera Al-Fatih masih belum sempurna disebabkan oleh rantai besi yang melindungi pintu masuk Tanjung Emas itu. Para mujahid pun terus melancarkan serangan demi serangan, sehingga pada 18 April 1453M, pasukan penyerang Utsmaniyah telah berhasil memecah tembok Byzantine di Lembah Lycos yang terletak di sebelah barat kota. Tentera Byzantine telah berusaha untuk mempertahankan kota itu. Pertempuran sengit berlaku bersama iringan hujan anak panah yang amat dahsyat.
Pada hari yang sama, beberapa buah kapal laut Utsmaniyah mencoba melintasi rantai besi di Tanjung Emas. Akan tetapi, gabungan tentera laut Byzantine dan Eropa telah berhasil menangkis serangan itu bahkan beberapa buah kapal laut Utsmaniyah musnah menyebabkan yang lain terpaksa pulang ke posisi masing-masing untuk mengelakkan kerugian yang lebih tragis..
Dua hari selepas serangan itu, serangan laut un dilancarkan kembali. Sultan Muhammad Al-Fatih sendiri mengawasi misi ini dari pantai. Beliau telah mengirimkan utusan kepada tentera laut dengan mengatakan,"Hendaklah kalian tawan kapal-kapal itu atau kalian tenggelamkan saja semuanya. Jika kamu gagal, jangan pulang kepada kami dengan nyawa kalian yang masih menempel di tubuh!".
Ketika itu juga, Sultan Muhammad Al-Fatih menunggang kudanya sampai di tepi laut saraya berteriak sekuat tenaga untuk memberi spirit prajurit dengan Palta Oglu sebagai panglimanya. Kesungguhan Al-Fatih itu terbukti mendongkrak semangat tenteranya. Namun, tentera Kristen berhasil juga mematahkan serangan mujahidin walaupun mereka melancarkan serangan demi serangan. Kegagalan tersebut menyebabkan Sultan Muhammad Al-Fatih menjadi begitu marah lalu memecat Palta Oglu dan digantikan dengan Hamzah Pasha.
Kegagalan serangan tersebut telah memberikan kesan yang besar kepada tentera Utsmaniyah. Khalil Pasha yang merupakan wazir ketika itu mencoba untuk membujuk Al-Fatih supaya membatalkan serangan serta menerima saja perjanjian penduduk Costantinople untuk tunduk kepada Daulah Utsmaniyah tanpa menakluknya. Saran itu ditolak mentah-mentah oleh Al-Fatih. Kini tiba masanya beliau berfikir tentang bagaimana upaya tentera laut Utsmaniyah agar berhasil menerobos Tanjung Emas.

v     Keajaiban Tentera Utsmaniyah
Sultan Muhammad Al-Fatih telah menemukan satu siasat yang jitu untuk membawa kapalnya masuk ke perairan Tanjung Emas. Siasat yang tidak pernah dilakukan tentera mana pun sebelumnya. Beliau telah memanggil tenteranya dan menyarankan kepada mereka supaya membawa kapal-kapal itu masuk ke perairan Tanjung Emas melalui jalan darat! Malam itu juga, tentera Utsmaniyah dengan semangat dan kekuatan luar biasa telah berhasil menarik 70 kapal dari pantai Besiktas ke Galata melalui bukit yang begitu tinggi dengan jarak melebihi 3 km. Ini sungguh kejadian ini sangat luar biasa dan di luar bayangan manusia normal hingga ke hari ini.
Pagi 22 April itu, penduduk Costantinople dikejutkan dengan suara takbir dan nasyid para mujahidin di Tanjung Emas. Siapa pun tak dapat membayangkan, bagaimana semua itu bisa terjadi hanya pada satu malam. Bahkan ada yang menyangka bahwa tentera Al-Fatih mendapat bantuan jin dan setan!
Yilmaz Oztuna di dalam bukunya Osmanli Tarihi menceritakan bagaimana seorang ahli sejarah Byzantine berkata, "Tidaklah kami pernah melihat atau mendengar hal ajaib seperti ini. Muhammad Al-Fatih telah menggantikan darat menjadi lautan, melayarkan kapalnya di puncak gunung dan bukannya di ombak lautan. Sesungguhnya Muhammad Al-Fatih dengan usahanya ini telah mengungguli Alexander The Great!"
Costantine pun bermusyawarah dengan para menteri Byzantine tentang strategi seterusnya, tetapi mereka gagal mencapai kata sepakat. Costantine menolak cadangan supaya beliau sendiri pergi mendapatkan pertolongan dari umat Kristen di Eropa, bahkan tetap dengan keputusannya untuk mempertahankan Costantinople hingga ke titik darah terakhir.

v     Serangan Besar-besaran
Dengan kedudukan tentera Utsmaniyah yang sudah semakin mantap, Sultan Muhammad Al-Fatih kini melancarkan serangan besar-besaran ke benteng terakhir Byzantine. Tembakan meriam yang memusnahkan sebuah kapal dagang di Tanjung Emas, menyebabkan tentera Eropa lari ketakutan. Mereka meninggalkan pertempuran melalui kota Galata. Sejak kejayaan kapal mujahidin memasuki perairan Tanjung Emas, serangan dilancarkan siang dan malam tanpa henti.
Gema takbir "Allahu Akbar, Allahu Akbar!" yang membahana telah memberi semacam serangan psikologis kepada penduduk kota berkenaan. Seakan mendengar sambaran petir, semangat menurun drastis ketika mendengar serbuan kalimah tauhid tentera Al-Fatih itu. Dalam saat yang sama, Al-Fatih dan tenteranya mengejutkan mereka dengan model perang yang baru sehingga menggentarkan pertahanan tentera salib itu.
Ketika itu pula penduduk Costantinople menyadari bahwa tentara Islam telah menjebol terowong untuk masuk ke pusat kota. Ketakutan melanda penduduk sehingga mereka curiga dengan bunyi telapak kakinya sendiri. Hati mereka gundah, jangan-jangan tentera Turki muncul dari perut bumi  bagai Ontorejo.

v     Usaha Damai Terakhir
Sultan Muhammad Al-Fatih yakin bahawa kemenangan semakin dekat. Kecintaannya kepada Costantinople yang dijanjikan oleh Rasulullah Saw, mendorong beliau untuk terus berusaha agar Costantine menyerah saja tanpa terus membiarkan kota itu musnah. Sekali lagi Al-Fatih mengirim utusan meminta Costantine supaya menyerahkan Costantinople secara aman. Dan ketika utusan Al-Fatih itu sampai kepadanya, Costantine telah bermusyawarah dengan para menterinya. Ada yang menyarankan supaya mereka menyerah kalah, dan ada pula yang menyarankan agar pertahanan diteruskan hingga titik darah penghabisan. Costantine akhirnya setuju dengan pandangan kedua lantas membalas Al-Fatih dengan kalimat, "Syukur kepada Tuhan karena Sultan mau melindungi keamanan dan bersedia menerima jizyah. Akan tetapi Costantine bersumpah untuk terus bertahan hingga akhir hayatnya demi takhta, atau mati dikuburkan di kota ini!".
Ketika jawaban Costantine ini diterima, Al-Fatih menjawab, "Baiklah, tidak lama lagi Costantinople akan berada di tanganku, dan engkau boleh jadi tetap naik takhta atau diusung keranda...!"
Al-Fatih pun terus menerapkan berbagai strategi. Berbagai kemungkinan dipertimbangkan dan akhirnya keputusan dibuat untuk meneruskan rencana menaklukkan Costantinople sebagaimana yang telah disusun.

v     Hari Kemenangan
Pada 27 Mei 1453, Sultan Muhammad Al-Fatih bersama tenteranya telah berusaha keras bertaubat di hadapan Allah SWT, memperbanyak shalat, doa dan zikir dengan harapan Allah SWT akan memudahkan kemenangan. Para ulama memeriksa barisan tentera sambil memberi semangat juang. Mereka diperingatkan tentang kelebihan jihad dan syahid serta kemuliaan para syuhada terdahulu, khususnya Abu Ayyub Al-Ansari Ra ketika Rasulullah Saw tiba di Madinah pada awal hijrah. Ketika itu baginda Saw tke rumah Abu Ayyub Al-Ansari seraya mengatakan: “Sesungguhnya Abu Ayyub telah datang (ke Costantinople) dan berada di sini!" Kata-kata ini telah membakar semangat tentera Al-Fatih.
Dalam saat yang sama, penduduk Costantine melakukan upacara peribadatan secara bersungguh-sungguh dengan harapan Tuhan akan membantu mereka.. Tepat jam 1 pagi, hari Selasa 20 Jamadil Awal 857H / 29 Mei 1453M, serangan utama dilancarkan. Para mujahidin diperintahkan supaya melantangkan suara takbir kalimah tauhid sambil menyerang kota. Penduduk Costantinople telah berada di puncak ketakutan mereka pagi itu. Mujahidin yang sejak semula menginginkan syahid, begitu berani menyerbu tentera salib di kota itu.
Tentera Utsmaniyah akhirnya berhasil menembus kota Costantinople melalui Pintu Edirne dan segera mengibarkan bendera Daulah Utsmaniyah di puncak kota. Costantine yang melihat kejadian itu merasa putus asa untuk bertahan lantas menanggalkan pakaian maharajanya supaya tidak dikenali musuh. Akhirnya beliau menemui ajal dalam keadaan yang amat tragis.
Berita kematian Costantine telah menmabah spirit tentera Islam untuk menyerang. Begitu juga sebaliknya, bagaikan pohon tercabut dari akarnya, tentera salib menjadi kocar kacir ketika mendengar berita kematian maharajanya.
Kesungguhan dan semangat juang yang tinggi di kalangan tentera Al-Fatih, akhirnya berhasil mengantarkan pada cita-cita mereka. Kejayaan menguasai Costantinople telah disambut dengan penuh rasa syukur oleh Al-Fatih, langit dan bumi. Beliau bertitah, "Alhamdulillah, semoga Allah merahmati para syuhada', memberikan kemuliaan kepada mujahidin, serta kebanggaan dan terima kasih buat rakyatku"

v     Sebaik-baik Pimpinan dan Tentera
Pada hari itu, mayoritas penduduk Costantinople bersembunyi di gereja-gereja sekitar kota. Sultan Muhammad Al-Fatih berpesan kepada tenteranya supaya memperlakukan dengan baik kepada penduduk Costantinople. Tak lupa beliau selalu mengucapkan terima kasih kepada tenteranya yang berhasil merealisasikan sabda Rasulullah Saw:
“Sesungguhnya Costantinople itu pasti akan berhasil ditaklukkan. Sebaik-baik pimpinan adalah pimpinannya, dan sebaik-baik tentera adalah tenteranya”
Dengan penuh rasa syukur dan tawadhu, Sultan Muhammad Al-Fatih sujud ke bumi mengucapkan syukur ke hadirat Allah atas kemenangan bersejarah itu. Beliau kemudiannya menuju ke Gereja Aya Sofya yang ketika itu menjadi tempat perlindungan sejumlah besar penduduk kota. Ketakutan jelas terbayang di wajah masing-masing ketika beliau mendekat ke pintu. Salah seorang paderi pun membuka pintu gereja, dan Al-Fatih meminta beliau supaya menenangkan mereka. Dengan toleransi dan kelembutan Al-Fatih,  mereka pun keluar dari tempat persembunyian masing-masing, bahkan ada di kalangan paderi yang langsung menyatakan keIslaman mereka. Secara umum, rakyat pun dilindungi keamanannya dengan tanpa ada darah yang tertumpah.
Setelah itu, Sultan Muhammad Al-Fatih mengintruksikan supaya gereja itu dijadikan masjid agar hari Jum’at yang akan datang, iabadah Jum’at dapat diselenggarakan di masjid ini. Ini lebih terhormat daripada gereja itu diluluhlantakkan. Akhirnya para pekerja pun menanggalkan dan menurunkan salib, patung dan gambar-gambar untuk maksud tersebut.
Pada hari Jumaat itu, Sultan Muhammad Al-Fatih bersama ummat Islam telah mendirikan shalat Jum’at di Masjid Aya Sofya. Khutbah yang pertama di Aya Sofya itu telah disampaikan oleh Syeikh Ak Semsettin. Pada hari itu juga Sultan Muhammad Al-Fatih telah bersumpah bahwa barangsiapa yang menukar Masjid Aya Sofya kembali kepada gereja, maka akan dilaknat ummat Islam, dirinya dan Tuhan Masjid Aya Sofya itu.
Nama Costantinople kemudiannya ditukar kepada "Islam Bol", yang bermaksud "Kemenangan Islam" dan kemudiannya dijadikan sebagai ibukota negara ketiga Khilafah Utsmaniyah setelah Bursa dan Edirne. Kekallah bumi yang mulia itu sebagai pusat pemerintahan, kebudayaan, keilmuan dan keagungan Islam berjaya sampai sekian lamanya, sehinggalah Khilafah Utsmaniyah ditamatkan sejarahnya oleh Mustafa Kemal Ataturk pada tahun 1924M.
Aya Sofya kembali dikristenkan oleh Ataturk atas nama mosium. Gambar- gambar syirik kembali bertempelan di kubah masjid yang berdukacita itu. Sesungguhnya seluruh umat Islam merindukan suara azan membesarkan Allah kembali berkumandang di menara Aya Sofya. Semoga Istanbul kembali ke pangkuan Islam dan Muslimin.


Thariq Bin Ziyad, Sang Penakluk Spanyol
 
            Setelah Rasulullah Saw. wafat, Islam menyebar dalam spektrum yang luas. Tiga benua lama -Asia, Afrika, dan Eropa-pernah merasakan rahmat dan keadilan dalam naungan pemerintahan Islam. Tidak terkecuali Spanyol (Andalusia). Ini negeri di daratan Eropa yang pertama kali masuk dalam pelukan Islam di zaman Pemerintahan Kekhalifahan Bani Umaiyah.
Sebelumnya, sejak tahun 597 M, Spanyol dikuasai bangsa Gotic, Jerman. Raja Roderick yang berkuasa saat itu. Ia berkuasa dengan lalim. Ia membagi masyarakat Spanyol ke dalam lima kelas sosial. Kelas pertama adalah keluarga raja, bangsawan, orang-orang kaya, tuan tanah, dan para penguasa wilayah. Kelas kedua diduduki para pendeta. Kelas ketiga diisi para pegawai negara seperti pengawal, penjaga istana, dan pegawai kantor pemerintahan. Mereka hidup pas-pasan dan diperalat penguasa sebagai alat memeras rakyat. Kelas keempat adalah para petani, pedagang, dan kelompok masyarakat yang hidup cukup lainnya. Mereka dibebani pajak dan pungutan yang tinggi. Dan kelas kelima adalah para buruh tani, serdadu rendahan, pelayan, dan budak. Mereka paling menderita hidupnya.
Akibat klasifikasi sosial itu, rakyat Spanyol tidak kerasan. Sebagian besar mereka hijrah ke Afrika Utara. Di sini di bawah Pemerintahan Islam yang dipimpin Musa bin Nusair, mereka merasakan keadilan, kesamaan hak, keamanan, dan menikmati kemakmuran. Para imigran Spanyol itu kebanyakan beragama Yahudi dan Kristen. Bahkan, Gubernur Ceuta, bernama Julian, dan putrinya Florinda - yang dinodai Roderick - ikut mengungsi.
Melihat kezaliman itu, Musa bin Nusair berencana ingin membebaskan rakyat Spanyol sekaligus menyampaikan Islam ke negeri itu. Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik memberi izin. Musa segera mengirim Abu Zar’ah dengan 400 pasukan pejalan kaki dan 100 orang pasukan berkuda menyeberangi selat antara Afrika Utara dan daratan Eropa.
Kamis, 4 Ramadhan 91 Hijriah atau 2 April 710 Masehi, Abu Zar’ah meninggalkan Afrika Utara menggunakan 8 kapal dimana 4 buah adalah pemberian Gubernur Julian. Tanggal 25 Ramadhan 91 H atau 23 April 710 H, di malam hari pasukan ini mendarat di sebuah pulau kecil dekat Kota Tarife yang menjadi sasaran serangan pertama.
Di petang harinya, pasukan ini berhasil menaklukan beberapa kota di sepanjang pantai tanpa perlawanan yang berarti. Padahal jumlah pasukan Abu Zar’ah kalah banyak. Setelah penaklukan ini, Abu Zar’ah pulang. Keberhasilan ekspedisi Abu Zar’ah ini membangkitkan semangat Musa bin Nusair untuk menaklukan seluruh Spanyol. Maka, ia memerintahkan Thariq bin Ziyad membawa pasukan untuk penaklukan yang kedua.
Thariq bin Ziyad bin Abdullah bin Walgho bin Walfajun bin Niber Ghasin bin Walhas bin Yathufat bin Nafzau adalah putra suku Ash-Shadaf, suku Barbar, penduduk asli daerah Al-Atlas, Afrika Utara. Ia lahir sekitar tahun 50 Hijriah. Ia ahli menunggang kuda, menggunakan senjata, dan ilmu bela diri.
Senin, 3 Mei 711 M, Thariq membawa 70.000 pasukannya menyeberang ke daratan Eropa dengan kapal. Sesampai di pantai wilayah Spanyol, ia mengumpulkan pasukannya di sebuah bukit karang yang sekarang dikenal dengan nama Gibraltar -diambil dari bahasa Arab “Jabal Thariq”, Bukit Thariq. Lalu ia memerintahkan pasukannya membakar semua armada kapal yang mereka miliki.
Pasukannya kaget. Mereka bertanya, “Apa maksud Anda?” “Kalau kapal-kapal itu dibakar, bagaimana nanti kita bisa pulang?” tanya yang lain. Dengan pedang terhunus dan kalimat tegas, Thariq berkata:
“Kita datang ke sini bukan untuk kembali. Kita hanya memiliki dua pilihan: menaklukkan negeri ini lalu tinggal di sini atau kita semua binasa!” Kini pasukannya paham. Mereka menyambut panggilan jihad Panglima Perang mereka itu dengan semangat berkobar.
Lalu Thariq melanjutkan briefingnya. “Wahai seluruh pasukan, kalau sudah begini, ke mana lagi kalian akan lari? Di belakang kalian ada laut dan di depan kalian ada musuh. Demi Allah SWT., satu-satunya milik kalian saat ini hanyalah kejujuran dan kesabaran. Hanya itu yang dapat kalian andalkan. Musuh dengan jumlah pasukan yang besar dan persenjataan yang lengkap telah siap menyongsong kalian. Sementara senjata kalian hanyalah pedang. Kalian akan terbantu jika kalian berhasil merebut senjata dan perlengkapan musuh kalian. Karena itu, secepatnya kalian harus bisa melumpuhkan mereka. Sebab kalau tidak, kalian akan menemukan kesulitan besar. Itulah sebabnya kalian harus lebih dahulu menyerang mereka agar kekuatan mereka lumpuh. Dengan demikian semangat juang kita akan bangkit.
Musuh kalian itu sudah bertekad bulat akan mempertahankan negeri mereka sampai titik darah penghabisan. Kenapa kita juga tidak bertekad bulat untuk menyerang mereka hingga mati syahid? Saya sama sekali tidka bermaksud menakut-nakuti kalian. Tetapi marilah kita galang rasa saling percaya di antara kita dan kita galang keberanian yang merupakan salah satu modal utama perjuangan kita.
Kita harus bahu membahu. Sesungguhnya saya tahu kalian telah membulatkan tekad serta semangat sebagai pejuang-pejuang agama dan bangsa. Untuk itu kelak kalian akan menikmati kesenangan hidup, di samping itu kalian juga memperoleh balasan pahala yang agung dari Allah SWT. Hal itu karena kalian telah mau menegakkan kalimat-Nya dan membela agama-Nya.
Percayalah, sesungguhnya Allah SWT. adalah penolong utama kalian. Dan sayalah orang pertama yang akan memenuhi seruan ini di hadapan kalian. Saya akan hadapi sendiri Raja Roderick yang sombong itu. Mudah-mudahan saya bisa membunuhnya. Namun, jika ada kesempatan, kalian boleh saja membunuhnya mendahului saya. Sebab dengan membunuh penguasa lalim itu, negeri ini dengan mudah kita kuasai. Saya yakin, para pasukannya akan ketakutan. Dengan demikian, negeri ini akan ada di bawah bendera Islam.”
Mendengar pasukan Thariq telah mendarat, Raja Roderick mempersiapkan 100.000 tentara dengan persenjataan lengkap. Ia memimpin langsung pasukannya itu. Musa bin Nusair mengirim bantuan kepada Thariq hanya dengan 5.000 orang. Sehingga total pasukan Thariq hanya 12.000 orang.
Ahad, 28 Ramadhan 92 H atau 19 Juli 711 M, kedua pasukan bertemu dan bertempur di muara Sungai Barbate. Pasukan Muslimin yang kalah banyak terdesak. Julian dan beberapa orang anak buahnya menyusup ke kubu Roderick. Ia menyebarkan kabar bahwa pasukan Muslimin datang bukan untuk menjajah, tetapi hanya untuk menghentikan kezaliman Roderick. Jika Roderick terbunuh, peperangan akan dihentikan.
Usaha Julian berhasil. Sebagian pasukan Roderick menarik diri dan meninggalkan medan pertempuran. Akibatnya barisan tentara Roderick kacau. Thariq memanfatkan situasi itu dan berhasil membunuh Roderick dengan tangannya sendiri. Mayat Roderick tengelam lalu hanyut dibawa arus Sungai Barbate.
Terbunuhnya Roderick mematahkan semangat pasukan Spanyol. Markas pertahanan mereka dengan mudah dikuasai. Keberhasilan ini disambut gembira Musa bin Nusair. Baginya ini adalah awal yang baik bagi penaklukan seluruh Spanyol dan negara-negara Eropa.
Setahun kemudian, Rabu, 16 Ramadhan 93 H, Musa bin Nusair bertolak membawa 10.000 pasukan menyusul Thariq. Dalam perjalanan ia berhasil menaklukkan Merida, Sionia, dan Sevilla. Sementara pasukan Thariq membagi pasukannya untuk menaklukkan Cordova, Granada, dan Malaga. Ia sendiri membawa sebagian pasukannya menaklukkan Toledo, ibukota Spantol saat itu. Semua ditaklukkan tanpa perlawanan.
Pasukan Musa dan pasukan Thariq bertemu di Toledo. Keduanya bergabung untuk menaklukkan Ecija. Setelah itu mereka bergerak menuju wilayah Pyrenies, Perancis. Hanya dalam waktu 2 tahun, seluruh daratan Spanyol berhasil dikuasai. Beberapa tahun kemudian Portugis mereka taklukkan dan mereka ganti namanya dengan Al-Gharb (Barat).
Sungguh itu keberhasilan yang luar biasa. Musa bin Nusair dan Thariq bin Ziyad berencana membawa pasukannya terus ke utara untuk menaklukkan seluruh Eropa. Sebab, waktu itu tidak ada kekuatan dari mana pun yang bisa menghadap mereka. Namun, niat itu tidak tereaslisasi karena Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik memanggil mereka berdua pulang ke Damaskus. Thariq pulang terlebih dahulu sementara Musa bin Nusair menyusun pemerintahan baru di Spanyol.
Setelah bertemu Khalifah, Thariq bin Ziyad ditakdirkan Allah SWT. tidak kembali ke Eropa. Ia sakit dan menghembuskan nafas. Thariq bin Ziyad telah menorehkan namanya di lembar sejarah sebagai putra asli Afrika Utara Muslim yang menaklukkan daratan Eropah.

 
Asy-Syahid Abdullah Azzam
Dr. Abdullah Yusuf Azzam (1941–1989), dikenal dengan nama Syekh Azzam, adalah seorang tokoh utama dalam perkembangan pergerakan Islam. "Ratusan tulisan dan pidatonya mampu menghidupkan ruh baru dalam diri ummat. Seolah-olah beliau dipilih Allah SWT untuk menegakkan kembali kewajiban yang telah dilupakan sebagian besar ummat Islam, yaitu jihad." Demikian komentar DR. Dahba Zahely, cendekiawan Muslim Malaysia tentang DR Abdullah Azzam. Komentar senada juga datang dari cendekiawan dan ulama dari berbagai negara.
Seorang tokoh pejuang Islam menghadap Allah SWT dengan begitu indahnya. Hampir setiap Muslim yang memperhatikan kondisi dunia Islam di tahun 80-an pasti mengenal nama dan sosok Abdullah Azzam dengan baik. Dia adalah simbol jihad Afganistan saat mengusir pasukan beruang merah Rusia. Dan kini, hampir 18 tahun berlalu, namanya masih lekat dikenang dalam hati para pejuang Islam di dunia.
Meski, label gembong teroris juga dikaitkan dengan namanya, namun siapapun yang mengetahui kondisi perjuangan jihad Afganistan ketika itu, tak pernah terbetik sedikitpun bahwa Abdullah Azzam adalah seorang teroris. Bahkan sebaliknya, ia adalah pejuang sejati yang begitu tinggi kasih sayangnya kepada kaum Muslimin.
Beberapa waktu lalu, sejumlah tokoh mengingatkan tentang peringatan syahidnya tokoh jihad Afganistan itu. Salah seorang muridnya yang kini tinggal di Mesir, bercerita tentang Abdullah Azzam, saat beliau sedang melakukan perkemahan. Pada suatu acara semua yang mengikuti mukhayyam itu diperintahkan oleh komandan lapangan.
“Kalian berlarilah mengelilingi lapangan ini sebanyak yang kalian bisa,” ujar komandan lapangan. Semua peserta perkemahan berlari. Namun setelah beberapa putaran, sudah ada yang menyerah, dan mereka yang menyerah beralasan bahwa “Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya (2: 286), inilah yang saya mampu,”
Begitu pula orang-orang yang menyerah selanjutnya, mereka selalu beralasan dengan ayat ke 286 di surat Al-Baqarah tersebut, dan yang sisa pun semakin banyak yang menyerah, sampai tinggal Abdullah Azzam sendiri, beliau terus berlari mengelilingi lapangan tersebut, sampai akhirnya beliau pingsan.
Dan setelah sadar beliau ditanya oleh komandan lapangan “Mengapa Anda berlari sampai pingsan begini, kan sudah saya bilang bahwa Anda berlari semampu Anda.”
Abdullah Azzam menjawab: “Inilah yang saya mampu, sesuai yang Anda perintahkan“ Yang dimaksud oleh Abdullah Azzam adalah makna sebenarnya dari “Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”, bahwa perintah harus dijalankan sampai tingkat maksimal.
Di sisi lain, upaya apapun harus dilakukan dengan optimal di batas kemampuan seseorang. Itulah salah satu pelajaran yang diberikan Abdullah Azzam.

v     Komitmen Kuat Berjihad
Syekh Azzam lahir pada tahun 1941 di desa Asba'ah Al-Hartiyeh, provinsi Jenin di sebelah barat Sungai Yordan, Utara Palestina yang dikenal sebagai Selat al-Harithia.
Ayahnya bernama Mustafa yang meninggal dunia setahun selepas pembunuhan anaknya. Ibunya bernama Zakia Saleh yang meninggal dunia setahun sebelum Sheikh Abdullah Azzam dibunuh. Abdullah Azzam berasal dari keluarga yang baik latar belakang keagamaannya. Keluarganya gembira mempunyai anak lelaki, Abdullah Yusuf Azzam, yang sudah terlihat istimewa di kalangan kanak-kanak lain dan telah aktif berdakwah pada usia yang muda.
Rekan-rekannya mengenali Azzam sebagai seorang yang wara dan sangat hati-hati dengan dosa. Ia menunjukkan tanda-tanda kecemerlangan pada usia muda. Guru-gurunya melihat keistimewaan ini sejak Azzam masih duduk di bangku sekolah.
Abdullah Azzam masuk dalam organisasi al-Ikhwanul-Muslimin sebelum mencapai usia baligh. Sheikh Abdullah Azzam telah dikenal karena ketabahan dan sifatnya yang sungguh-sungguh sejak kecil. Ia menerima pendidikan awal peringkat sekolah dasar dan menengah di kampung sebelum meneruskan pendidikan di College Pertanian Khadorri sampai tingkat Diploma.
Walau merupakan pelajar termuda di kalangan teman-temannya, Abdullah Azzam adalah murid yang paling cerdas. Setelah menamatkan pendidikan di College Khadorri ia bekerja sebagai seorang guru di sebuah kampung bernama Adder di Selatan Jordan.
Kemudian beliau meneruskan pendidikan di College Syariah di universitas Damaskus sehingga memperoleh Ijazah BA. dalam Syariah pada 1966. Setelah pihak Yahudi mendudduki Tepi Barat pada tahun 1967, Abdullah Azzam muda hijrah ke Jordan, karena ia tidak mau tinggal di bawah penjajahan Yahudi di Palestina.
Pengalaman melihat tank-tank Israel bergerak masuk ke Tepi Barat tanpa ada hambatan meningkatkan tekadnya untuk hijrah dan belajar mendapatkan kemampuan untuk perang.
Tahun 1960-an ia ikut dalam Jihad menentang penjajahan Israel di Palestina dari Jordan. Ketika itu juga ia menerima Ijazah Master di dalam bidang Shariah dari Unversitas al-Azhar. Pada tahun 1970 sesudah Jihad terhenti karena kekuatan PLO dipaksa keluar dari Jordan, Abdullah Azzam menjadi seorang pensyarah di universitas Jordanian di Amman.
Pada tahun 1971 ia dianugerahi beasiswa ke Universitas al-Azhar di Kairo sampai ia memperoleh Ijazah doktor di dalam bidang Ushul Fiqh pada 1973. Ketika di Mesir itulah, ia telah berkenalan dengan keluarga Sayid Quthb, keluarga tokoh perjuangan Islam di Mesir. Pada tahun 1979 ia meninggalkan universitas berpindah ke Pakistan untuk ikut serta dalam Jihad Afganistan.
Di sana ia berkenalan dengan pemimpin-pemimpin Jihad. Awal kedatangannya di Pakistan, ia dilantik sebagai pensyarah di universitas Islam internasional di Islamabad. Setelah beberapa waktu lamanya, kemudian beliau mengambil keputusan untuk berhenti dari tugas universitas untuk memfokuskan seluruh waktu dan tenaganya kepada Jihad di Afganistan.
Pada tahun 1980 ia pindah ke Peshawar. Di sana ia mendirikan Baitul Anshar, sebuah lembaga yang menghimpun bantuan untuk para mujahid Afghan. Ia juga menerbitkan sebuah media Ummat Islam. Lewat majalah inilah ia menggedor kesadaran ummat tentang jihad.
Katanya, jihad di Afghan adalah tuntutan Islam dan menjadi tanggung jawab ummat Islam di seluruh dunia. Seruannya itu tidak sia-sia. Jihad di Afghan berubah menjadi jihad universal yang diikuti oleh seluruh ummat Islam di pelosok dunia. Pemuda-pemuda Islam dari seluruh dunia yang terpanggil oleh fatwa-fatwa Abdullah Azzam, bergabung dengan para mujahidin Afghan.
Jihad di Afganistan telah menjadikan Abdullah Azzam sebagai tokoh pergerakan jihad zaman ini. Ia menjadi idola para mujahid muda. Peranannya mengubah pemikiran ummat Islam akan pentingnya jihad di Afganistan telah membuahkan hasil yang sangat mengagumkan. Uni Sovyet sebagai negara Adidaya harus pulang dengan rasa malu, karena tidak berhasil menduduki Afganistan.
Abdullah Azzam telah berhasil meletakkan pondasi jihad di hati kaum muslimin. Penghargaannya terhadap jihad sangat besar bagi dirinya. Isterinya menjadi pengasuh anak-anak yatim dan pekerja sosial di Afganistan.
Komitmen Abdullah Azzam terhadap Islam sangat tinggi. Jihad sudah menjadi falsafah hidupnya. Sampai akhir hayatnya, ia tetap menolak tawaran mengajar di beberapa universitas. Ia berjanji terus berjihad sampat titik darah penghabisan. Mati sebagai mujahid itulah cita-citanya. Wajar kalau kemudian pada masa hidupnya dialah tokoh rujukan ummat dalam hal jihad. Fatwa-fatwanya tentang jihad selalu dinanti-nantikan kaum muslimin.
Abdullah Azzam sangat banyak dipengaruhi oleh Jihad di Afganistan dan Jihad di Afganistan juga sangat banyak dipengaruhi Abdullah Azzam sejak beliau memfokuskan seluruh waktunya untuk Jihad. Ia menjadi seorang yang disegani di arena Jihad Afganistan. Ia menumpahkan seluruh daya usaha untuk menyebarkan dan mengenalkan Jihad di Afganistan ke seluruh dunia.
Ia mengubah pandangan umat Islam tentang Jihad di Afganistan dan menyadarkan bahwa Jihad adalah tuntutan Islam yang menjadi tanggung jawab semua umat Islam di seluruh dunia. Berkat hasil usahanya, Jihad Afghan menjadi Jihad universal yang diikuti oleh umat Islam dari berbagai pelosok dunia. Abdullah Azzam bahkan menjadi idola generasi muda yang menyahut seruan Jihad.
Pernah ia berkata, "Aku rasa seperti baru berusia 9 tahun, 7 setengah tahun di Jihad Afghan, satu setengah tahun di Jihad Palestina dan tahun-tahun yang selebihnya tidak bernilai apa-apa." Ia juga melatih keluarganya dengan pemahaman dan semangat yang sama. Isterinya terlibat dengan kegiatan penjagaan anak-anak yatim di Afganistán. Ia sendiri menolak tawaran pekerjaan sebagai pensyarah dari beberapa buah universitas sambil berikrar bahwa ia tidak akan meninggalkan Jihad sehingga gugur syahid.
Ia juga selalu mengatakan bahwa tujuan utama dan cita-citanya adalah untuk membebaskan Palestina.

v     Terbunuh Saat Hendak Shalat Jumat
Tentu saja komitmen yang begitu tinggi pada Islam menimbulkan keresahan di kalangan musuh-musuh Islam. Mereka bersekongkol untuk membunuh beliau.
Pada tahun 1989, sebuah bom diletakkan di bawah mimbar yang ia gunakan untuk menyampaikan khutbah Jumat. Bahan letupan itu sangat berbahaya dan ledakannya akan memusnahkan masjid tersebut bersama dengan semua benda dan jamaah di dalamnya. Tetapi dengan perlindungan Allah, bom tersebut tidak meledak dan ratusan orang Islam selamat. Musuh-musuh Islam terus berupaya membunuh Abdullah Azzam.
Pada hari Jum’at, 24 November 1989 di Peshawar, Pakistan, mereka telah menanam tiga buah bom di jalan yang sempit. Abdullah Azzam meletakkan keretanya di posisi bom pertama dan kemudian berjalan ke masjid untuk shalat Jum’at.
Bom pun meledak dan Abdullah Azzam gugur bersama dengan dua orang anak lelakinya, Muhammad dan Ibrahim, beserta dengan anak lelaki almarhum Sheikh Tamim Adnani (pejuang di Afghan). Ledakan bom seberat 20 kg TNT dilakukan dengan alat kontrol jarak jauh. Setelah ledakan kuat itu itu orang-orang keluar dari masjid dan melihat keadaan yang mengerikan. Hanya bahagian kecil dari mobil tersebut yang kelihatan. Anak Abdullah Azzam, Ibrahim, terpental 100 meter; begitu juga dengan dua orang anak-anak lagi.
Serpihan mayat mereka bertaburan di atas kabel-kabel listrik. Tubuh Abdullah Azzam ditemukan bersandar pada sebuah tembok, dalam keadaan sempurna dan tiada luka atau cedera kecuali sedikit darah yang mengalir dari bibirnya. Seperti itulah akhir kehidupan seorang Mujahid di dunia ini dan insya Allah kehidupannya akan terus berlanjut di sisi Allah SWT.
.Abdullah Azzam dikebumikan di Tanah Perkuburan Syuhada Pabi di mana beliau menyertai ribuan para syuhada.
 

Pedang Allah, Khalid bin Walid

Khalid ibn al-Walid (584 - 642), atau sering disingkat Khalid bin Walid, adalah seorang panglima perang yang termahsyur dan ditakuti di medan perang serta dijuluki sebagai "pedang Allah yang terhunus". Dia adalah salah satu dari panglima-panglima perang penting yang tidak terkalahkan sepanjang karirnya.
Khalid dilahirkan kira-kira 17 tahun sebelum masa pembangunan Islam. Dia anggota suku Banu Makhzum, suatu cabang dari suku Quraisy. Ayahnya bernama Walid dan ibunya Lababah. Khalid termasuk di antara keluarga Nabi yang sangat dekat. Maimunah, bibi dari Khalid, adalah isteri Nabi. Dengan Umar sendiri pun Khalid ada hubungan keluarga, yakni saudara sepupunya. Suatu hari pada masa kanak-kanaknya kedua saudara sepupu ini main adu gulat. Khalid dapat mematahkan kaki Umar. Untunglah dengan melalui suatu perawatan kaki Umar dapat diluruskan kembali dengan baik.
Awalnya, Khalid bin Walid adalah panglima perang kaum kafir Quraisy yang terkenal dengan pasukan kavalerinya. Pada saat Pertempuran Uhud, Khalid-lah yang melihat celah kelemahan pasukan Muslimin yang menjadi lemah setelah bernafsu mengambil rampasan perang dan turun dari Bukit Uhud dan menghajar pasukan Muslim pada saat itu. Tetapi setelah perang itulah Khalid mulai masuk Islam.
Ayah Khalid yang bernama Walid bin Mughirah dari Bani Makhzum, adalah salah seorang pemimpin yang paling berkuasa diantara orang-orang Quraisy. Dia sangat kaya. Dia menghormati Ka'bah dengan perasaan yang sangat mendalam. Sekali dua tahun dialah yang menyediakan kain penutup Ka'bah. Pada masa ibadah Haji dia memberi makan dengan cuma-cuma bagi semua orang yang datang berkumpul di Mina.
Ketika orang Quraisy memperbaiki Ka'bah tidak seorang pun yang berani meruntuhkan dinding-dindingnya yang tua itu. Semua orang takut kalau-kalau jatuh dan mati. Melihat suasana begini Walid maju ke depan dengan bersenjatakan sekop sambil berteriak, "Oh, Tuhan jangan marah kepada kami. Kami berniat baik terhadap rumah-Mu".
Nabi mengharapkan dengan sepenuh hati, agar Walid masuk Islam. Harapan ini timbul karena Walid seorang kesatria yang berani di mata rakyat. Karena itu dia dikagumi dan dihormati oleh orang banyak. Jika dia telah masuk Islam ratusan orang akan mengikutinya.
Dalam hati kecilnya Walid merasa, bahwa Al Qur-'an itu adalah kalimat-kalimat Allah. Dia pernah mengatakan secara jujur dan terang-terangan, bahwa dia tidak bisa berpisah dari keindahan dan kekuatan ayat-ayat suci itu.
Suku Banu Makhzum mempunyai tugas-tugas penting. Jika terjadi peperangan, Banu Muhzum lah yang mengurus gudang senjata dan gudang tenaga tempur. Suku inilah yang mengumpulkan kuda dan senjata bagi prajurit-prajurit.
Tidak ada cabang suku Quraisy lain yang bisa lebih dibanggakan seperti Banu Makhzum. Ketika diadakan kepungan maut terhadap orang-orang Islam di lembah Abu Thalib, orang-orang Banu Makhzumlah yang pertama kali mengangkat suaranya menentang pengepungan itu.

v     Latihan Pertama
Kita tidak banyak mengetahui mengenai Khalid pada masa kanak-kanaknya. Tetapi satu hal kita tahu dengan pasti, ayah Khalid orang berada. Dia mempunyai kebun buah-buahan yang membentang dari kota Mekah sampai ke Taif. Kekayaan ayahnya ini membuat Khalid bebas dari kewajiban-kewajibannya.
Dia lebih leluasa dan tidak usah belajar berdagang. Dia tidak usah bekerja untuk menambah pencaharian orang tuanya. Kehidupan tanpa suatu ikatan memberi kesempatan kepada Khalid mengikuti kegemarannya. Kegemarannya ialah adu tinju dan berkelahi.
Saat itu pekerjaan dalam seni peperangan dianggap sebagai tanda seorang Satria. Panglima perang berarti pemimpin besar. Kepahlawanan adalah satu hal terhormat di mata rakyat.
Ayah Khalid dan beberapa orang pamannya adalah orang-orang yang terpandang di mata rakyat. Hal ini memberikan dorongan keras kepada Khalid untuk mendapatkan kedudukan terhormat, seperti ayah dan paman-pamanya. Satu-satunya permintaan Khalid ialah agar menjadi orang yang dapat mengatasi teman-temannya di dalam hal adu tenaga. Sebab itulah dia menceburkan dirinya ke dalam seni peperangan dan seni bela diri. Malah mempelajari keahlian mengendarai kuda, memainkan pedang dan memanah. Dia juga mencurahkan perhatiannya ke dalam hal memimpin angkatan perang. Bakat-bakatnya yang asli, ditambah dengan latihan yang keras, telah membina Khalid menjadi seorang yang luar biasa. Kemahiran dan keberaniannya mengagumkan setiap orang.
Pandangan yang ditunjukkannya mengenai taktik perang menakjubkan setiap orang. Dengan gamblang orang dapat melihat, bahwa dia akan menjadi ahli dalam seni kemiliteran. Dari masa kanak-kanaknya dia memberikan harapan untuk menjadi ahli militer yang luar biasa jenialnya.

v     Menentang Islam
Pada masa kanak-kanaknya Khalid telah kelihatan menonjol di antara teman-temannya. Dia telah sanggup merebut tempat istimewa dalam hati rakyat. Lama kelamaan Khalid menanjak menjadi pemimpin suku Quraisy. Pada waktu itu orang-orang Quraisy sedang memusuhi Islam. Mereka sangat anti dan memusuhi agama Islam dan penganut-penganut Islam.
Kepercayaan baru itu menjadi bahaya bagi kepercayaan dan adat istiadat orang-orang Quraisy. Orang-orang Quraisy sangat mencintai adat kebiasaannya. Sebab itu mereka mengangkat senjata untuk menggempur orang-orang Islam. Tunas Islam harus dihancurkan sebelum tumbuh berurat-berakar. Khalid sebagai pemuda Quraisy yang berani dan bersemangat berdiri di garis paling depan dalam penggempuran terhadap kepercayaan baru ini. Hal ini sudah wajar dan seirama dengan kehendak alam.
Sejak kecil pemuda Khalid bertekad menjadi pahlawan Quraisy. Kesempatan ini diperolehnya dalam pertentangan-pertentangan dengan orang-orang Islam. Untuk membuktikan bakat dan kecakapannya ini, dia harus menonjolkan dirinya dalam segala pertempuran. Dia harus memperlihatkan kepada sukunya kualitasnya sebagai jago berkelai.

v     Peristiwa Uhud
Kekalahan kaum Quraisy di dalam perang Badar membuat mereka jadi kegila-gilaan, karena penyesalan dan panas hati. Mereka merasa terhina. Rasa sombong dan kebanggaan mereka sebagai suku Quraisy telah meluncur masuk lumpur kehinaan Arang telah tercoreng di muka orang-orang Quraisy. Mereka seolah-olah tidak bisa lagi mengangkat dirinya dari lumpur kehinaan ini. Dengan segera mereka membuat persiapan-persiapan untuk membalas pengalaman pahit yang terjadi di Badar.
Sebagai pemuda Quraisy, Khalid bin Walid pun ikut merasakan pahit getirnya kekalahan itu. Sebab itu dia ingin membalas dendam sukunya dalam peperangan Uhud. Khalid dengan pasukannya bergerak ke Uhud dengan satu tekad menang atau mati. Orang-orang Islam dalam pertempuran Uhud ini mengambil posisi dengan membelakangi bukit Uhud.
Sungguhpun kedudukan pertahanan baik, masih terdapat suatu kekhawatiran. Di bukit Uhud masih ada suatu tanah genting, dimana tentara Quraisy dapat menyerbu masuk pertahanan Islam. Untuk menjaga tanah genting ini, Nabi menempatkan 50 orang pemanah terbaik. Nabi memerintahkan kepada mereka agar bertahan mati-matian. Dalam keadaan bagaimana jua pun jangan sampai meninggalkan pos masing-masing.
Khalid bin Walid memimpin sayap kanan tentara Quraisy empat kali lebih besar jumlahnya dari pasukan Islam. Tetapi mereka jadi ragu-ragu mengingat kekalahan-kekalahan yang telah mereka alami di Badar. Karena kekalahan ini hati mereka menjadi kecil menghadapi keberanian orang-orang Islam.
Sungguh pun begitu pasukan-pasukan Quraisy memulai pertempuran dengan baik. Tetapi setelah orang-orang Islam mulai mendobrak pertahanan mereka, mereka telah gagal untuk mempertahankan tanah yang mereka injak.
Kekuatannya menjadi terpecah-pecah. Mereka lari cerai-berai. Peristiwa Badar berulang kembali di Uhud. Saat-saat kritis sedang mengancam orang-orang Quraisy. Tetapi Khalid bin Walid tidak goncang dan sarafnya tetap membaja. Dia mengumpulkan kembali anak buahnya dan mencari kesempatan baik guna melakukan pukulan yang menentukan.
Melihat orang-orang Quraisy cerai-berai, pemanah-pemanah yang bertugas di tanah genting tidak tahan hati. Pasukan Islam tertarik oleh harta perang, harta yang ada pada mayat-mayat orang-orang Quraisy. Tanpa pikir panjang akan akibatnya, sebagian besar pemanah-pemanah, penjaga tanah genting meninggalkan posnya dan menyerbu ke lapangan.
Pertahanan tanah genting menjadi kosong. Khalid bin Walid dengan segera melihat kesempatan baik ini. Dia menyerbu ke tanah genting dan mendesak masuk. Beberapa orang pemanah yang masih tinggal dikeroyok bersama-sama. Tanah genting dikuasai oleh pasukan Khalid dan mereka menjadi leluasa untuk menggempur pasukan Islam dari belakang.
Dengan kecepatan yang tak ada taranya Khalid masuk dari garis belakang dan menggempur orang Islam di pusat pertahanannya. Melihat Khalid telah masuk melalui tanah genting, orang-orang Quraisy yang telah lari cerai-berai berkumpul kembali dan mengikuti jejak Khalid menyerbu dari belakang. Pemenang-pemenang antara beberapa menit yang lalu, sekarang telah terkepung lagi dari segenap penjuru, dan situasi mereka menjadi gawat.
Khalid bin Walid telah mengubah kemenangan orang Islam di Uhud menjadi suatu kehancuran. Mestinya orang-orang Quraisylah yang kalah dan cerai-berai. Tetapi karena gemilangnya Khalid sebagai ahli siasat perang, kekalahan-kekalahan telah disulapnya menjadi satu kemenangan. Dia menemukan lobang-lobang kelemahan pertahanan orang Islam.
Hanya pahlawan Khalidlah yang dapat mencari saat-saat kelemahan lawannya. Dan dia pula yang sanggup menarik kembali tentara yang telah cerai-berai dan memaksanya untuk bertempur lagi. Seni perangnya yang luar biasa inilah yang mengungkap kekalahan Uhud menjadi suatu kemenangan bagi orang Quraisy.
Khalid bin Walid sangat termashur sebagai panglima Tentara Kaum Kafir Quraisy yang tak terkalahkan. Baju kebesarannya berkancingkan emas dan mahkota di kepalanya bertahtahkan berlian. Begitu gagah dan perkasanya Khalid baik di medan perang maupun ahli dalam menyusun strategi perang. Pada Perang Uhud melawan tentara Muslimin, tentera yang dipimpin Rasulullah banyak yang mati sebagai syuhada di tangan Khalid bin Walid. Dengan Suara lantang di atas perbukitan Khalid bin Walid berkata: “Hai Muhammad, kami sudah menang, kamu telah kalah dalam peperangan ini. Lihatlah pamanmu Hamzah yang tewas tercabik cabik tubuhnya dan lihatlah pasukanmu yang telah porak poranda”.
Rasulullah menjawab: “Tidak aku yang menang dan engkau yang kalah, Khalid. Mereka yang gugur adalah syahid, sebenarnya mereka tidak mati wahai Khalid mereka hidup di sisi Allah SWT penuh dengan kemuliaan dan kenikmatan, mereka telah berhasil pindah alam dari dunia menuju akherat menuju surga Allah karena membela Agama Allah gugur sebagai syuhada akan tetapi matinya tentaramu, matinya sebagai Kafir dan dimasukkan ke Neraka Jahannam. Setelah itu Khalid memerintahkan pasukannya untuk kembali, sejak itu Khalid termenung terngiang selalu akan kata kata Nabi Muhammad dan penasaran akan sosok Muhammad.
Maka Khalid mengutus mata-mata (intel) untuk memantau dan mengamati aktivitas Muhammad Saw setelah perang Uhud tersebut. Setelah cukup lama memata-matai Rasulullah, akhirnya utusan Khalid melaporkan hasil pengamatan tersebut, kata utusan tersebut”
Aku mendengar semangat juang yang dikemukakan Muhammad kepada para pasukannya.
“Aku heran kepada seorang panglima Khalid bin Walid yang gagah perkasa dan cerdas, tapi kenapa dia tidak paham dengan agama allah yang aku bawa, sekiranya Khalid bin Walid tahu dan paham dengan Agama yang aku bawa, dia akan berjuang bersamaku. Khalid akan aku jadikan juru rundingku yang duduk bersanding di sampingku. Kata kata mutiara tersebut disampaikan mata-mata Khalid bin Walid di Mekkah kepada panglimanya.
Mendengar laporan intel tersebut semakin membuatnya risau, yang akhirnya Khalid memutuskan untuk bertemu Muhammad dengan menyamar dan menggunakan Topeng menutup wajahnya hingga tidak di kenali oleh siapapapun. Khalid berangkat seorang diri dengan menunggang Kuda dan menggunakan baju kebesarnnya yang berhias emas serta mahkota bertahta berlian namun wajahnya ditutupi Topeng.
Di tengah perjalanan Khalid bertemu dengan Bilal yang sedang bedakwah kepada para petani. Dengan Diam-diam Khalid mendengarkan dan menyimak apa yang di sampaikan oleh Bilal yang membacakan surat al-Hujurat (QS 49:13) yang artinya “Hai manusia kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku suku supaya kamu saling mengenal dengan baik. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang-orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”
Khalid terperangah, bagaimana mungkin Bilal yang kuketahui sebagai Budak hitam dan buta huruf bisa berbicara seindah dan sehebat itu. Tentu itu benar perkataan dan Firman Allah. Namun gerak gerik mencurigakan Khalid bin walid diketahui Ali bin Abi Thalib. Dengan lantang Ali berkata ”Hai penunggang Kuda, bukalah topengmu agar aku bisa mengenalimu, bila niatmu baik aku akan layani dengan baik, dan bila niatmu buruk aku akan layani pula dengan buruk” Kata Ali bin Abi Thalib.
Setelah itu dibukalah Topeng tampaklah wajah Khalid bin Walid seorang Panglima besar kaum Kafir Quraisy yang berjaya di perang Uhud. Dengan tatapan mata yang penuh karismatik Khalid berkata” Aku kemari punya niat baik untuk bertemu Muhammad dan menyatakan diriku masuk Islam” Kata Khalid bin Walid.
Wajah Ali yang sempat tegang berubah menjadi berseri-seri, “Tunggulah kau di sini, Khalid!, saya akan sampaikan berita gembira ini kepada Rasulullah Saw” Kata Ali bi Abi Thalib.
Bergegas Ali menemui Rasulullah dan menyampaikan maksud kedatangan Khalid bin Walid sang panglima perang .
Mendengar berita yang disampaikan Ali, wajah Rasulullah berseri-seri, lalu mengambil serban hijau miliknya, kemudian dibentangkan di tanah sebagai tanda penghormatan kepada Khalid bin walid yang akan datang menemuinya. Lalu Rasulullah menyuruh Ali menjemput Khalid untuk menemuinya. Begitu Khalid dating, Rasulullah langsung memeluknya.” Ya Rasulullah, Islamkan saya.” Kata Khalid bin Walid.
Lalu Rasulullah mengajarkan kalimat syahadat kepada Khalid. Dengan begitu, Khalid bin Walid telah memeluk agama Islam. Begitu selesai membaca syahadat, Khalid bin Walid menanggalkan mahkotanya yang bertahtahkan intan diserahkan kepada Rasulullah. Begitu pula dengan bajunya yang berkancingkan emas diserahkan juga kepada beliau. Namun begitu Khalid bin Walid akan mencopot pedangnya dan menyerahkannya kepada Rasulullah, Baginda melarangnya ”Jangan kau lepaskan pedang itu Khalid, karena dengan pedang itu nanti kamu akan berjuang membela agama Allah bersamaku” Kata Rasulullah.
Selanjutnya, Nabi memberi gelar pedang tersebut dengan nama “Syaifullah yang artinya “Pedang Allah yang terhunus.” Setelah bergabungnya Khalid bin Walid ke dalam Islam, bertambah kuatlah pasukan Muslim hingga bisa menaklukan kota Mekkah. Pasukan Kafir Quraiys secara drastis melemah bagaikan ayam kehilangan induknya.
Islamnya Khalid bin Walid amat membahagiakan Rasulullah, karena Khalid mempunyai kemampuan berperang yang dapat digunakan untuk membela Islam dan meninggikan kalimatullah dengan perjuangan jihad. Dalam banyak kesempatan peperangan Islam Khalid bin Walid diangkat menjadi komandan perang dan menunjukan hasil gemilang atas segala upaya jihadnya.
Pada masa pemerintahan Abu Bakar, Khalid diamanahkan untuk memperluas wilayah Islam dan membuat kalang kabut pasukan Romawi dan Persia. Pada tahun 636, pasukan Arab yang dipimpin Khalid berhasil menguasai Suriah dan Palestina dalam Pertempuran Yarmuk, menandai dimulainya penyebaran Islam yang cepat di luar Arab.
Pada masa pemerintahan Umar bin Khattab, Khalid diberhentikan tugasnya dari medan perang dan diberi tugas untuk menjadi duta besar. Hal ini dilakukan oleh Umar agar Khalid tidak terlalu didewakan oleh kaum Muslimin pada masa itu.

Penjara Suci As Surur, 07/03/12.
 

1 Komentar:

  1. heeeeeeemmm maseh seperti kemaren,, oya tulisan yang panjang bagus, tapi singkat padat jelas tentunya lebih bagus lagipula visitor kan suka yang simpel2,,, terus berkarya pak...

    BalasHapus